Hubungan Antara Durasi Tidur dan Pola Makan dengan Obesitas Remaja di SMAN 1 Semarang
##plugins.themes.academic_pro.article.main##
Abstract
Artikel ini menganalisis hubungan antara durasi tidur dan pola makan dengan obesitas pada 61 siswa kelas sepuluh SMAN 1 Semarang menggunakan pendekatan kuantitatif dan metode survei (convenience sampling). Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya kasus obesitas remaja yang terkait dengan gaya hidup modern. Data dikumpulkan melalui kuesioner mengenai durasi tidur, frekuensi makan, kebiasaan sarapan, konsumsi makanan cepat saji, serta data antropometri untuk menghitung Indeks Massa Tubuh (IMT). Hasil menunjukkan bahwa 25 siswa (41%) mengalami obesitas. Mayoritas responden obesitas memiliki durasi tidur kurang dari delapan jam per hari (72%), makan kurang dari tiga kali sehari (64%), mengonsumsi makanan cepat saji 3–4 kali per minggu (68%), dan tidak rutin sarapan (64%); selain itu, 48% mengaku makan saat stres. Temuan ini mengindikasikan bahwa kombinasi antara tidur yang tidak cukup dan pola makan tidak seimbang berkontribusi signifikan terhadap risiko obesitas, di mana interaksi keduanya memperkuat kemungkinan kelebihan berat badan. Penelitian ini menyimpulkan perlunya intervensi edukatif di sekolah, yang mencakup edukasi tidur cukup, pola makan sehat, dan manajemen stres. Upaya intervensi tersebut dapat dilakukan dengan melakukan pelatihan kesehatan dasar pada guru mengenai pola hidup sehat, serta program monitoring yang melibatkan tenaga kesehatan untuk memantau perkembangan status gizi dan pola hidup siswa secara berkala. Kebijakan sekolah dalam penyediaan kantin sehat serta penjadwalan kegiatan ekstrakurikuler dapat meningkatkan aktivitas fisik siswa. Selain itu, peran orang tua dan lingkungan keluarga juga penting dalam membentuk kebiasaan hidup sehat. Dengan pendekatan kolaboratif antara sekolah dan keluarga diharapkan dapat menekan angka obesitas dan meningkatkan kualitas hidup remaja di masa yang akan datang.