Demokrasi di Mata Generasi Z: Antara Ruang Kebebasan dan Bayang-bayang Kekuasaan
Keywords:
Demokrasi, Generasi Z, Kebebasan Berpendapat, Kekuasaan, Partisipasi Politik, Ruang Digital, Self-CensorshipAbstract
Transisi ke era digital telah mengubah lanskap politik, menempatkan ruang siber sebagai arena kritis bagi praktik demokrasi kontemporer. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pandangan Generasi Z mengenai praktik demokrasi di Indonesia, berfokus pada dialektika antara Ruang Kebebasan berpendapat dan potensi Bayang-Bayang Kekuasaan dalam ruang publik digital dan sosial. Generasi Z, sebagai digital natives, menunjukkan pola partisipasi politik yang berbeda dan sentral dalam ekosistem informasi kontemporer. Menggunakan metode kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui studi literatur komprehensif dan wawancara terbatas dengan responden kunci, yang terdiri dari mahasiswa dan aktivis muda yang aktif dalam isu-isu publik. Temuan penelitian ini mengindikasikan adanya disonansi signifikan antara idealisme demokrasi Gen Z (jaminan kebebasan dan keadilan) dengan realitas praktiknya yang terkooptasi oleh kepentingan politik dan dominasi kekuasaan. Media sosial teridentifikasi sebagai platform utama untuk ekspresi dan mobilisasi non-formal. Namun, fungsi kebebasan ini sangat dikondisikan oleh risiko struktural: hampir seluruh responden mengakui adanya self-censorship yang dipicu oleh ketakutan terhadap regulasi siber yang represif (UU ITE), yang menciptakan efek dingin (chilling effect) dan rasa pengawasan konstan. Selain itu, ruang siber rentan terhadap manipulasi opini dan polarisasi afektif. Kesimpulan menunjukkan bahwa Generasi Z memiliki tingkat kesadaran kritis yang tinggi terhadap kualitas demokrasi. Partisipasi otentik mereka dikondisikan oleh tantangan struktural yang menuntut strategi coping adaptif. Strategi ini meliputi penggunaan meme politik, sarkasme, dan akun anonim (second account) sebagai mekanisme negosiasi untuk mempertahankan kedaulatan informasi diri, menyeimbangkan idealisme kebebasan berekspresi dengan kenyataan kekuasaan yang membatasi.