Implikasi Kebijakan Agreement on Reciprocal Trade (ART) 2026 terhadap Industri Tekstil Padat Karya di Indonesia: Tinjauan Literatur

Authors

  • Widya Puspitraningrum Universitas Negeri Semarang
  • Luna Farsya Shifwah Universitas Negeri Semarang
  • Muhammad Hadi Nur Fattaah Universitas Negeri Semarang
  • Rizky Akbar Athallah Universitas Negeri Semarang
  • Fitri Nur Ramadhani Universitas Negeri Semarang
  • Muhamad Fadhil Ajrun Karim Universitas Negeri Semarang
  • Zulfa Nur Iza Salsabilla Universitas Negeri Semarang

Keywords:

Agreement on Reciprocal Trade, fragmentasi perdagangan, industri padat karya, industri tekstil

Abstract

Perdagangan internasional telah lama menjadi salah satu pilar utama pertumbuhan ekonomi bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Kemunculan Agreement on Reciprocal Trade (ART) 2026 antara Indonesia dan Amerika Serikat, yang lahir dari tekanan tarif resiprokal kebijakan dagang pemerintahan Trump, menempatkan Indonesia pada posisi yang perlu cermat dalam menegosiasikan kepentingan sektoralnya. Industri tekstil sebagai sektor padat karya yang menyerap jutaan tenaga kerja dan sangat bergantung pada Amerika Serikat sebagai salah satu tujuan ekspor utama, menjadi sektor yang paling rentan terhadap implikasi perjanjian ini. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah secara kritis berbagai implikasi kebijakan ART 2026 terhadap industri padat karya tekstil di Indonesia melalui pendekatan tinjauan literatur. Dengan menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka sistematis, penelitian ini menghimpun data sekunder dari laporan resmi Kementerian Perindustrian, Badan Pusat Statistik, World Trade Organization, World Bank, serta jurnal-jurnal ilmiah yang relevan. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, analisis isi, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tuntutan liberalisasi tarif resiprokal dalam ART 2026, ketika berhadapan dengan kelemahan struktural industri tekstil domestik yang mencakup penggunaan mesin tua, tingginya biaya energi, dan ketergantungan pada bahan baku impor, berpotensi besar menurunkan daya saing produk nasional dan mengancam keberlanjutan sektor padat karya tekstil. Oleh karena itu, diperlukan sinkronisasi antara kebijakan perdagangan internasional dan strategi revitalisasi industri nasional untuk menjaga ketahanan sektor ini dalam jangka panjang.

Downloads

Published

2026-09-03

Issue

Section

Articles